Minggu, 22 Februari 2015

Contoh laporan pengamatan


LAPORAN PENGAMATAN TENTANG KEBERSIHAN DI LINGKUNGAN MASYARAKAT KECEMATAN TALLUNGLIPU


Disusun Oleh
NAMA : 

ISMI MARTGITA KASSA’
VEBYOLA SUGIARTO
ABRAHAM SANDA
EDI SALURANTE
DJORDIE VICAR MAREWA (X IPS 5)
FRIAN TA’DUNG (X IPS 5)
FRISKA PABURRU’ (X IPS 5)
JENDRI MASSOLO (X IPS 5)

KELAS : X IPS 2

======================================================================


DAFTAR ISI

BAB 1 :

LATAR BELAKANG MASALAH

RUMUSAN MASALAH

TUJUAN PENULISAN

MANFAAT PENULISAN

BAB 2 :

LANDASAN TEORI

BAB 3:

HASIL PENGAMATAN

PEMBAHASAN HASIL PENGAMATAN

BAB 4:

KESIMPULAN
SARAN

                                                           BAB I
                                                  PENDAHULUAN          
A. Latar Belakang Masalah
Di zaman yang maju ini dengan perkembangan zaman yang sangat pesat   
 banyak masyarakat  yang sudah tidak peduli lagi dengan lingkungan,khususnya di daerah kecematan tallunglipu. Masyarakat  di daerah kecematan Tallunglipu sudah tidak terlalu peduli lagi dengan lingkungan,bukti bahwa masyrakat di daerah tersebut sudah tidak terlalu peduli lagi dengan lingkungan adalah banyaknya sampah yang bertebaran di berbagai tempat khususnya di sungai. Sungai-sungai yang ad di daerah kecematan Tallunglipu bisa dikatakan sudah menjadi lautan sampah.
    Kejadian ini tentunya menjadi perhatian untuk semua kalangan tidak terkecuali para pelajar,dengan kejadian ini kami tertarik untuk mengamati tentang kebersihan lingkungan di daerah kecematan Tallunglipu.

B. Rumusan Masalah

1.     Apa yang menyebabkan banyaknya sampah yang bertebaran di sembarang
        tempat?
2.     Apa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal demikian?

C.  Tujuan Penulisan

1.     Untuk mengetahui penyebab banyaknya sampah yang bertebaran di   
        lingkungan masyarakat
2.     Untuk mengetahui upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi sampah
        di lingkunga masyarakat.

D.Manfaat Penulisan

1.     Sebagai hasil dari tugas yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesia.
2.     Sebagai alat untuk menyadarkan pembaca akan pentingnya lingkungan yang  
        bersih.














BAB II. 

                                                LANDASAN TEORI

    Menurut situs http:laila , Kebersihan lingkungan merupakan hal yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan merupakan unsur yang fundamental dalam ilmu kesehatan dan pencegahan. Yang dimaksud dengan kebersihan lingkungan adalah menciptakan lingkungan yang sehat sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit seperti demam berdarah, muntaber dan lainnya. Ini dapat dicapai dengan menciptakan suatu lingkungan yang bersih indah dan nyaman.
      Di dalam ilmu keagamaan juga diajarkan mengenai kebersihan lingkungan mencangkup kebersihan makan, kebersihan minum, kebersihan rumah, kebersihan sumber air, pekarangan dan jalan. Ini semua sesuai dengan ajaran agama yaitu kebersihan adalah bagian dari pada iman.
      Kebersihan akan lebih menjamin kesehatan. Kebersihan tidak sama dengan kemewahan, kebersihan adalah usaha manusia agar lingkungan tetep sehat terawat secara kontinyu.
      Bila sudah terbiasa menjaga kebersihan maka jika melihat tempat yang tidak bersih perlu segera kita bersihkan agar hilang dari pandangan mata. Semakin banyak kotoran yang dibiarkan menumpuk semakin tidak baik untuk dilihat yang lebih bahaya lagi akan mendatangkan berbagai penyakit atau wabah di sekitarnya.
       Dalam hubungan ini umat beragama dan masyarakat sekitar mutlak diperlukan dalam menciptakan lingkungan masyarakat bersih dan sehat. Kondisi bersih sangat mendukung kenyamanan dan menerik, sebaliknya tempat yang kotor menjadikan kondisi suram dan menjengkelkan.



                                                                                          




·       












BAB III. 
 HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Pengamatan

    Pada bab ini dilaporkan hasil pengamatan yang telah dilaksanakan pada tanggal 11 November di Kecematan Tallunglipu dengan sasaran masyarakat di lingkungan Kecematan Tallunglipu. Dari pengamatan ini diperole  hasil sebagai berikut:
Dari pengamatan yang kami lakukan di kecematan Tallunglipu kami mendapat informasi bahwa sampah-sampah yang bertebaran di lingkungan masyarakat  di sebabkan oleh adanya sampah-sampah yang berasal dari para penjual yang menjual di pinggir jalan serta tidak adanya perhatian masyarakat sekitar tetang pentingnya kebersihan ligkungan masyarakat dan juga kurangnya tempat sampah. Selain dari itu tempat yang sudah kotor dan memang sudah banyak sampahnya membuat orang yakin bahwa membuang sampah sembarangan diperbolehkan ditempat itu. Jadi warga sekitar tanpa ragu untuk membuang sampahnya. Kami juga dapat melihat bahwa  perilaku membuang sampah sembarangan ini  tidak lepas dari pengaruh lingkungan sekitar. Saat ini, dalam menangapi masalah pembuangan sampah sembarangan sudah menjadi pola perilaku di masyarakat yang “biasa” atau legal karena semua orang melakukannya. Secara tidak sadar maka perilaku membuang sampah sembarangan akan menjadi suatu bentukan perilaku yang terinternalisasi di dalam pikiran bahwa membuang sampah sembarangan bukanlah hal yang salah. Adapu hal yang perlu dilakukan untuk menangani hal ini adalah memperbanyak tempat sampah di berbagai tempat dan menyadari akan pentingnya suatu lingkungan yang bersih.
   
 






















BAB IV. 

KESIMPULAN DAN SARAN
A.  SIMPULAN

    Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka  kami dapat menyimpulkan bahwa sampah-sampah yang bertebaran di lingkungan masyarakat kecematan Tallunglipu di sebabkan oleh adanya kebiasaan masyrakat  untuk membuang sampah sembarangan dan selain itu juga disebabkan oleh kurangnya tempat sampah.

B.   SARAN

    Bagi yang sempat membaca laporan kami,kami selaku penulis mengajak anda untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menciptakan suasana yang indah. Saran kami, jagalah kebersihan,jangan membuang sampah sembarangan karena kebersihan itu penting dengan adanya kebersihan maka hidup sehat pun tercapai.

Contoh makalah tentang kerajaan kutai.


MAKALAH
TENTANG:
KERAJAAN KUTAI
DISUSUN               
OLEH:
*djordie vicar marewa

sma NEGERI 1 RANTEPAO




             DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN...................................................
A.Latar Belakang...............................................
B.Rumusan Masalah..........................................
C.Tujuan..............................................................
BAB II
PEMBAHASAN........................................................
            A.Sumber Sejarah..............................................
            B. Letak Kerajaan Kutai....................................
            C. Kehidupan Politik..........................................
            D. Kehidupan Sosial............................................
            E. Kehidupan Agama..........................................
            F. Kehidupan Ekonomi.......................................
    G. Masa Keruntuhan Kerajaan Kutai...............
BAB III
KESIMPULAN................................................
      SARAN.............................................................


BAB I
PENDAHULUAN
            Setelah kedatangan agama dan kebudayaan Hindu Buddha, terjadi perkembangan dan
perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama dalam bidang politik.
Sistem pemerintahan masyarakat Indonesia mengalami perubahan dari system kesukuan menjadi
kerajaan. Pada system kerajaan, kepala pemerintahan tidak dipegang oleh kepala suku bergelar
datu/datuk atau ratu/raka,tetapi dipegang oleh seorang rajamenggunakan gelar prabu, raja, atau 
maharaja. Dalam system ini, raja dianggap keturunan dewa yang harus disembah oleh bawahan
dan rakyatnya. Oleh karena itu raja memilki hak untuk menyelenggarakan pemerintahan secara
mutlak dan turun – temurun. System pemerintahan kerajaan digunakan di wilayah Kalimantan,
Jawa dan Sumatra. Selanjutnya, di daerah tersebut bermunculan kerajaan yang bercorak
Hindu-Buddha.      

A.   LATAR BELAKANG
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia yang terletak di Muara Kaman,
Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong) tepatnya di hulu sungai Mahakam. Kerajaan
Kutai diperkirakan muncul pada abad 5 M atau ± 400 M.Kerajaan ini terletak di Muara
Kaman, Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong) Nama Kutai diambil dari nama tempat
ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut. Nama Kutai diberikan oleh para
ahli karena tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini.  Keberadaan
kerajaan tersebut ditandai dengan ditemukannya 7 buah prasasti berbentuk yupa. Berdasarkan
prasasti yang ditemukan, diperkirakan Kerajaan Kutai berdiri pada abad ke-4. Yupa tersebut
menggunakan huruf Pallawa dan dengan bahasa Sanskerta. Dalam yupa tersebut dikatakan bahwa
raja pertama bernama Kudungga. Dilihat dari namanya, Kudungga adalah orang Indonesia asli.
Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman yang disebut sebagai wamsakerta
(pembentuk keluarga). Penggunaan nama ‘warman’ pada nama raja berikutnya merupakan bukti
bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu dan menunjukkan telah masuknya pengaruh
ajaran Hindu dalam kerajaan.
Dinyatakan pula dalam prasasti yupa, Aswawarman memiliki 3 putra. Yang terkemuka
bernama Mulawarman yang akhirnya diangkat menjadi raja berikutnya. Pada masa
pemerintahan Mulawarman, Kutai mengalami masa kejayaannya. Hal ini disebabkan karena
Mulawarman adalah raja yang dermawan, mulia, dan dekat dengan rakyat. Disebutkan dalam
prasasti yupa, beliau menyedekahkan sapi sebanyak 20.000 ekor kepada kaum brahmana di
Waprakeswara atau tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Dengan demikian, diketahui
bahwa Mulawarman adalah penganut Hindu-Siwa.
Mulawarman adalah raja terkenal dari Kutai, seperti diungkapkan pada salah satu yupa
berikut: ”Sang Maharaja Kudungga yang amat mulia mempunyai putra yang masyur
bernama Aswawarman. (Dia) mempunyai tiga orang putra yang seperti api. Yang terkemuka
di antara ketiga putranya adalah sang Mulawarman, raja yang besar, yang berbudi baik, kuat, dan
kuasa, yang telah upacara korban emas amat banyak dan untuk memperingati upacara korban
itulah tugu ini didirikan.”
Mulawarman, menurut yupa tersebut, sering diwujudkan dengan Ansuman, yaitu Dewa
Matahari. Raja Mulawarman dikenal sangat dekat dengan rakyatnya. Ia juga memiliki hubungan
yang baik dengan kaum brahmana yang datang ke Kutai. Diceritakan bahwa Mulawarman
sangat dermawan. Ia memberikan sedekah berupa minyak dan lampu. Ia juga memberikan hadiah
20.000 lembu kepada brahmana di suatu tempat yang disebut Waprakeswara (tempat suci untuk
memuja Dewa Siwa).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Mulawarman menganut Hindu-Siwa. Dari
besarnya sedekah raja Mulawarman ini memperlihatkan keadaan masyarakat Kutai yang sangat
makmur. Kemakmuran ini didukung oleh peranan yang besar Kutai dalam pelayaran dan
perdagangan di sekitar Asia Tenggara. Hal ini disebabkan karena letak Kutai yang strategis, yaitu
berada dalam jalur perdagangan utama Cina−India.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa raja pertama Kutai yang bernama Kudungga
diyakini belum dipengaruhi agama Hindu—setidaknya terlihat dari namanya yang masih asli.
Kudungga diperkirakan adalah seorang pemimpin suku setempat yang kemudian mendirikan
kerajaan pada saat pengaruh Hindu−Buddha mulai masuk ke Indonesia. Putra Kudungga,
Aswawarman, kemungkinan adalah raja pertama Kutai yang beragama Hindu.
Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti sehingga diberi gelar Wangsakerta yang artinya
pembentuk keluarga. Dalam masa pemerintahannya wilayah Kutai makin diperluas. Hal ini
diketahui dari diadakannya upacara aswamedha, yaitu upacara pelepasan kuda.
Setelah Aswawarman, Kutai diperintah oleh Mulawarman, putra Aswawarman.Dari prasasti
yang ditemukan diketahui bahwa dalam masa pemerintahan Mulawarman pada abad ke−4 M,
Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hamper seluruh wilayah
Kalimantan Timur. Pada masa pemerintahannya pula, rakyat Kutai hidup makmur.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana kehidupan ekonomi di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara?
2.    Bagaimana kehidupan sosial di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara?
3.    Bagaimana kehidupan agama di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara?

C.      TUJUAN
1.      Memahami kehidupan ekonomi di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara.
2.     Memahami kehidupan sosial di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara.
3.     Memahami kehidupan agama di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara.
Agar lebih paham dan jelas tentang Kerajaan Kutai di Indonesai, kita akan membahas
tentang:Sumber sejarah kerajaan kutai, letak Kerajaan Kutai, kehidupan politik, kehidupan
agama, kehidupan sosial dan budaya, kehidupan ekonomi dan masa keruntuhan.







BAB II
PEMBAHASAN
A.   SUMBER SEJARAH
Sumber yang menyatakan Bahwa di kaltim telah berdiri dan berkembang  krajaan yang
mendapatkan pegaruh Hindu adalah beberapa penemuan berupa batu bertulis atau Prasasti.
Tulisan itu ada pada tujuh tiang batu yang disebut Yupa. Yupa ini berfungsi utuk mengikat hewan
Korban. Korban itu merupakan persembahan rakyat kepada para Dewa yang dipujanya. Tulisan
yang terdapat pada Yupa tersebut menggunakan huruf pallawa dan berbahasa sansekerta.
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas
dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.
Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara
yang saat itu ibukota di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365,
yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi
kerajaan Islam.
Sejak tahun 1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran
berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut
Kesultanan Kutai Kartanegara. Nama Raja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai
nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India.Sementara putranya
yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu.

B.   LETAK KERAJAAN KUTAI
Kerajaan kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia. Kerajaan ini terletak ditepi sungai
Mahakam di Muarakaman, Kalimantan Timur, dekat kota Tenggarong. Letak geografis
Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India.

C.    KEHIDUPAN POLITIK
Dalam kehidupan politik seperti yang dijelaskan dalam yupa bahwa raja terbesar Kutai
adalah Mulawarman, putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga. Dalam
yupa juga dijelaskan bahwa Aswawarman disebut sebagai Dewa Ansuman/Dewa Matahari dan
dipandang sebagai Wangsakerta atau pendiri keluarga raja. Hal ini berarti Asmawarman sudah
menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti dalam agama Hindu.
Untuk itu para ahli berpendapat Kudungga masih nama Indonesia asli dan masih sebagai kepala
suku, yang menurunkan raja-raja Kutai. Dalam kehidupan sosial terjalin hubungan yang harmonis
/erat antara Raja Mulawarman dengan kaum Brahmana, seperti yang dijelaskan dalam yupa,
bahwaraja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di dalam
tanah yang suci bernama Waprakeswara. Istilah Waprakeswara–tempat suci untuk memuja Dewa
Siwa di pulau Jawa disebut Baprakewara.
Sejak muncul dan berkembangnya Pengaruh Hindu di Kaltim, terjadi perubahan dalam
tata pemerintahan, yatu dari sistem pemerintahan kepala suku menjadi sistem pemerintahan
Raja atau feodal. Raja-raja yang pernah berkuasa pada kerajaan Kutai adalah sebagai berikut:
1.  Kudungga. Raja ini adalah Founding Father kerajaan Kutai, ada yang unik pada nama raja
     pertama ini, karena nama Kudungga merupakan nama Lokal atau nama yang belum dipengaruhi
     oleh budaya Hindu. Hal ini kemudian melahirkan persepsi para ahli bahwa pada masa kekuasaan
Raja Kudungga, pengaruh Hindubaru masuk ke Nusantara, kedudukan Kudungga pada awalnya
adalah seorang kepala suku. Dengan masuknya pengaruh Hindu, ia megubah struktur
pemerintahannya menjadi kerajaan dan mengangkat dirinya mejadi raja, sehingga pergantian
raja dilakukan secara turun temurun.
2.  Aswawarman. Prasasti Yupa menyatakan bahwa Raja aswawarman merupakan raja yang cakap
     dan kuat. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai diperluas lagi.
     Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan upacara Asmawedha. Upacara-upacara ini pernah
     dilakukan di India pada masa pemerintahan raja Samudragupta, ketika ingin memperluas
     wilayahnya. Dalam upacara itu dilaksanakan  pelepasan kuda dengan tujuan untuk menentukan
     batas kekuasaan kerajaan Kutai. Dengan kata lain, sampai dimana ditemukan tapak kaki kuda,
     maka sampai disitulan batas kerajaan Kutai. Pelepasan kuda-kuda itu diikuti oleh prajurit kerajaan
     Kutai.
3.  Mulawarman. Raja ini adalah Putra dari raja Aswawarman, ia membawa Kerajaan Kutai ke
     puncak kejayaan. Pada masa kekuasaannya Kutai mengalami masa gemilang. Rakyat hidup
     tentram dan sejahtera. Dengan keadaan seperti itulah akhirnya Raja Mulawarman mengadakan
     upacara korban emas yang amat banyak.[ps]
4. Raja Marawijaya Warman
5. Raja Gajayana Warman
6. Raja Tungga Warman
7. Raja Jayanaga Warman
8. Raja Nalasinga Warman
9. Raja Nala Parana Tungga
10. Raja Gadingga Warman Dewa
11. Maharaja Indra Warman Dewa
12. Raja Sangga Warman Dewa
13. Raja Candrawarman
14. Raja Sri Langka Dewa
15. Rraja Guna Parana Dewa
16. Raja Wijaya Warman
17. Raja Sri Aji Dewa
18. Raja Mulia Putera
19. Raja Nala Pandita
20. Raja Indra Paruta Dewa
21. Raja Dharma Setia
D.   KEHIDUPAN SOSIAL DAN BUDAYA
Kehidupan sosial di Kerajaan Kutai merupakan terjemahan dari prasasti-prasasti yang ditemukan
oleh para ahli. Diantara terjemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Masyarakat di Kerajaan Kutai tertata, tertib dan teratur.
2.      Masyarakat di Kerajaan Kutai memiliki kemampuan beradaptasi dengan budaya luar (India), mengikuti pola perubahan zaman dengan tetap memelihara dan melestarikan budayanya sendiri.
Sementara itu dalam kehidupan budaya dapat dikatakan kerajaan Kutai sudah maju. Hal ini
dibuktikan melalui upacara penghinduan (pemberkatan memeluk agama Hindu) yang disebut
Vratyastoma. Vratyastoma dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarman karena Kudungga
masih mempertahankan ciri-ciri keIndonesiaannya, sedangkan yang memimpin upacara tersebut,
menurut para ahli, dipastikan adalah para pendeta (Brahmana) dari India. Tetapi pada masa
Mulawarman kemungkinan sekali upacara penghinduan tersebut dipimpin oleh kaum Brahmana
dari orang Indonesia asli. Adanya kaum Brahmana asli orang Indonesia membuktikan bahwa
kemampuan intelektualnya tinggi, terutama penguasaan terhadap bahasa Sansekerta yang pada
dasarnya bukanlah bahasa rakyat India sehari-hari, melainkan lebih merupakan bahasa resmi
kaum Brahmana untuk masalah keagamaan.
Kehidupan politik kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha membawa perubahan baru dalam
kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Struktur sosial dari masa Kutai hingga
Majapahit mengalami perkembangan yang ber-evolusi namun progresif. Dunia perekonomian
pun mengalami perkembangan: dari yang semula sistem barter hingga sistem nilai tukar uang.
Dari berbagai peninggalan yang ditemukan diketahui bahwa kehidupan masyarakatnya Kutai
sudah cukup teratur. Walau tidak secara jelas diungkapkan, diperkirakan masyarakat Kutai sudah
terbagi dalam pengkastaan meskipun tidak secara tegas. Dari penggunaan bahasa Sansekerta dan
pemberian hadiah sapi, disimpulkan bahwa dalam masyarakat Kutai terdapat golongan brahmana,
golongan yang sebagaimana juga di India memegang monopoli penyebaran dan upacara keagamaan.
Di samping golongan brahmana, terdapat pula kaum ksatria. Golongan ini terdiri dari kerabat
dekat raja. Di luar kedua golongan ini, sebagian besar masyarakat Kutai masih menjalankan adat
istiadat dan kepercayaan asli mereka. Jadi, walaupun Hindu telah menjadi agama resmi kerajaan,
namun masih terdapat kebebasan bagi masyarakat untuk menjalankan kepercayaan aslinya.
Berdasarkan isi prasasti-prasasti Kutai, dapat diketahui bahwa pada abad ke -4 M di daerah
Kutai terdapat suatu masyarakat Indonesiayang telah banyak menerima pengaruh hindu.
Masyarakat tersebut telah dapat mendirikan suatu kerajaan yang teratur rapi menurut pola
pemerintahan di India. Masyarakat Indonesia menerima unsur-unsur dari luar dan
mengembangkannya sesuai dengan tradisi bangsa Indonesia
Kehidupan budaya masyarakat Kutai sebagai berikut :
·         Masyarakat Kutai adalah masyarakat yang menjaga akar tradisi budaya nenek moyangnya.
  • Masyarakat yang sangat tanggap terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.
  • Menjunjung tingi semangat keagamaan dalam kehidupan kebudayaannya.
Masyarakat Kutai juga adalah masyarakat yang respon terhadap perubahan dankemajuan
budaya. Hal ini dibuktikan dengan kesediaan masyarakat Kutai yangmenerima dan mengadaptasi
budaya luar (India) ke dalam kehidupan masyarakat.Selain dari itu masyarakat Kutai dikenal
sebagai masyarakat yang menjunjung tinggispirit keagamaan dalam kehidupan kebudayaanya.
Penyebutan Brahmana sebagai pemimpin spiritual dan ritual keagamaan dalam yupa-prasasti yang
mereka tulismenguatkan kesimpulan itu
Bukti sejarah tentang kerajaan Kutai adalah ditemukannya tujuh prasasti yang berbentuk
yupa (tiang batu) tulisan yupa itu menggunakan huruf pallawa dan bahasa sansekerta. Informasi
yang ada diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4.
Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan
sejarah Kerajaan Kutai.

1.      Yupa atau Menhir Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang
dibuat oleh para Mulawarman atas kedermawanan raja Mulawarman. Dalam agama hindu
sapi tidak disembelih seperti kurban yang dilakukan umat islam. Dari salah satu yupa
tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah
Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan
20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
Gambar: Yupa peninggalan kerajaan kutai

2.      Ketopong Sultan Kutai
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirlxw3q6SfXZVFtJUw8ap7-LnsVpmxi-l7FM4NUQuHrwcxIUF2vrNa__tnZx7WpgcJ9feIT_-LaWW8H6tMjKVvHs45Wwzhmw-h52gaXLjOegbx1c9U4ReJ8lpX3T6MfK5UEzUNOVKcuq4/s200/ketopong.jpg
Ketopong Sultan Kutai Kartanegara
Ketopong atau Mahkota Sultan Kutai Kartanegara terbuat dari emas dengan berat hampir 2 kg,
yang dihiasi dengan batu-batu permata. Bentuk mahkota berunjungan dan bagian muka
berbentumeru bertingkat, dihiasi dengan motif ikal atau spiral yang dikombinasikan dengan
motif sulur. Hiasan belakang berupa garuda mungkur berhiaskan ukiran motif bunga, kijang
dan burung.
Ketopong Sultan Kutai Kartanegara
Ketopong dari emas ini telah mulai digunakan semenjak Sultan Aji Muhammad Sulaiman
bertahta ( 1845 - 1899 ). Diperkirakan mahkota ini dibuat pada pertengahan abad ke-19 oleh
pandai emas dari kerajaan Kutai sendiri. Seperti yang dijelaskan oleh Carl Bock dalam bukunya
 The Head-Hunters of Borneo (1881) bahwa Sultan Sulaiman memiliki 6 hingga 8 pandai emas
 yang dipekerjakan khusus untuk membuat barang-barang emas dan perak bagi Sultan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiUlErAY7ulHTlZXTFT61UEDsMj4K0wvzskehhpRGuhRPqbwqfuPdEow2ZxHHtre-9lrGquWAs-xwOBfz1CM4YsKLZtLXK5I_1azXAYNJuvyMA-FCuXI1YtG1SWIUZUCyg6ar0TYBVgMg/s200/kETOMPONG+dETAIL.jpg
Detail Ketopong Sultan KutaiDi Museum Mulawarman Tenggarong hanya dapat dilihat
duplikat dari Ketopong ini. Mahkota asli yang beratnya hampir 2 kg tersebut berada di Museum
Nasional Jakarta. Pada saat penobatan Sultan H.A.M. Salehuddin II sebagai Sultan Kutai
Kartanegara pada tanggal 22 September 2001, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara
meminjam ketopong ini untuk prosesi penobatan sang Sultan.


3.Pedang Sultan Kutai
Pedang Kerajaan Kutai ini terbuat dari emas padat. Pada gagang pedang terukir
seekor harimau yang sedang siap menerkam, sementara pada ujung sarung pedang
dihiasi dengan seekor buaya. Pedang Sultan Kutai ini dapat dilihat di
Museum Nasional, Jakarta
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhi5Mhyphenhyphenup81ImmIMLLRljUqmfT9VFEdTO7peDSXonWqTvkJE7aCdAt3VV53mY8FDU5waatuCs-3yVSUJ1YElm9j4FZX1HCQNoYxjEDIFukkzOkTnh8YkG0xfLDdLXwLM4pNnK_aaBbPgPc/s200/pedangkesultanan.gif
Gambar pedang sultan kutai
4.Tali Juwita
Tali juwita adalahsimbul dari sungai Mahakam yang mempunyai 7 buah
muara sungai dan 3 buah anak sungai (sungai Kelinjau, Belayan dan Kedang Pahu).  Tali Juwita
Berbentuk
3 utas tali masing- masing dibuat dari bahan emas, perak dan perunggu. Berhiasakan 3 buah bandul yang
berbentuk gelang, 2 buah bertatahkan permata mata kucing dan barjat putih. bandul lainnya berbentuk
lampion yang berhiaskan 2 buah bandul kecil. Tali juwita berasal dari kata Upavita yakni kalung yang
diberikan kepada seorang Raja. Benda ini merupakan perlengkapan upacara peobatan Sultan Kutai
Kartanegara.


5. Arca Singa Noleh
Konon, arca Singa Noleh awal mulanya adalah seekor binatang hidup yang sedang memakan beras
lempukut yang baru ditumbuk oleh seorang wanita. Wanita tersebut marah dan binatang tersebut
jatuh, terus menjadi batu bercampur porselein seperti keadaannya sekarang.

             E. KEHIDUPAN AGAMA
Agama Hindu di Kerajaan Kutai mulai berkembang pada masa pemerintahan Raja Aswawarman.
Agama Hindu yang berkembang adalah Hindu Syiwa sebagai dewa tertinggiTetapi di luar golongan
brahmana dan ksatria, sebagian besar masyarakat Kutai masih menjalankan adat istiadat dan
kepercayaan asli mereka. Jadi, walaupun Hindu telah menjadi agama resmi kerajaan, masih
terdapat kebebasan bagi masyarakatnya untuk menjalankan kepercayaan aslinya.
Dewa Syiwa diyakini sebagai symbol Brahma yang memiliki kekuatan untuk meleburkan
alam semesta. Perkembangan agama Hindu Syiwa dibuktikan dengan adanya tempat suci
yang bernama Waprakeswara yang digunakan untuk memuja Dewa Syiwa. Di Kerajaan Kutai,
agama Hindu Syiwa menjadi agama resmi, walaupun hanya berkembang di lingkungan istana.
Sedangkan, rakyat Kutai masih pada kepercayaan kaharingan.
Kaharingan adalah kepercayaan suku Dayak di Kalimantan, yang menyembah Ranying
Hatalla Langit sebagai pencipta alam semesta. Kepercayaan ini memiliki beberapa persamaan  
dengan agama Hindu satunya penggunaan sesajen. Oleh karena itu, pada tanggal 20 April 1980,
kaharingan dimasukkan dalam kategori agama Hindu 
               F. KEHIDUPAN EKONOMI
Kehidupan ekonomi di Kerajaan Kutai dapat diketahui dari hal berikut ini :
Letak geografis Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India.
Kerajaan Kutai menjadi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal
tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat Kutai, disamping pertanian. Kehidupan ekonomi masyarakat Kutai diperkirakan ditunjang
dari sektor pertanian, baik sawah maupun ladang. Selain itu, melihat letaknya yang strategis, yaitu di sekitar
Sungai Mahakam yang menjadi jalur perdagangan Cina dan India, membuat Kerajaan Kutai menarik
untuk disinggahi para pedagang. Dengan begitu, bidang perdagangan telah menjadi bagian dari
kehidupan masyarakat Kutai.
Kehidupan ekonomi masyarakat Kutai meningkat dengan diangkatnya Raja Mulawarman. Beliau
adalah raja yang mulia dan dermawan. Terbukti dengan memberi sedekah kepada rakyatnya berupa 20.000
ekor sapi yang diletakkan di Waprakeswara. Keterangan tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa
Raja Mulawarman pernah memberikan hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada
para Brahmana. Diperkirakan bahwa pertanian, baik sawah maupun ladang, merupakan mata
pencarian utama masyarakat Kutai. Melihat letaknya di sekitar Sungai Mahakam sebagai jalur
transportasi laut, diperkirakan perdagangan masyarakat Kutai berjalan cukup ramai. Bagi
pedagang luar yang ingin berjualan di Kutai, mereka harus memberikan “hadiah” kepada
raja agar diizinkan berdagang.
Pemberian “hadiah” ini biasanya berupa barang dagangan yang cukup mahal harganya; dan
pemberian ini dianggap sebagai upeti atau pajak kepada pihak Kerajaan. Melalui hubungan
dagang tersebut, baik melalui jalur transportasi sungai-laut maupan transportasi darat,
berkembanglah hubungan agama dan kebudayaan dengan wilayah-wilayah sekitar. Banyak pendeta
yang diundang datang ke Kutai. Banyak pula orang Kutai yang berkunjung ke daerah asal para
pendeta tersebut.

G. MASA KERUNTUHAN
Berdasarkan yupa yang ditemukan,Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama
Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji
Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda
dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu ibukota di Kutai Lama (Tanjung Kute).
Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama.
Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam.

Sejak tahun 1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran berubah
menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut Kesultanan
Kutai Kartanegara.

Nama Raja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang
belum terpengaruh dengan nama budaya India. Sementara putranya yang bernama Asmawarman
diduga telah terpengaruh budaya Hindu.










BAB III
PENUTUPAN

A. KESIMPULAN
Kerajaan Kutai berada di kalimantan Timur, yaitu di sungai hulu Mahakam. Nama kerajaan ini
disesuaikan dengan nama tempat penemuan  prasasti, yaitu didaerah Kutai.
Kaltim telah berdiri dan berkembang kerajaan yang mendapatkan pegaruh Hindu adalah
beberapa penemuan berupa batu bertulis atau Prasasti. Tulisan itu ada pada tujuh tiang batu yang
disebut Yupa. Yupa ini berfungsi utuk mengikat hewan Korban. Korban itu merupakan
pwersembahan rakyat kepada para Dewa yang dipujanya.
Kehidupan social dan budayanya pun sangat menjujung tinggi nilai kebudayaan yang ada.
Kehidupan ekonomi masyarakat kutai sangat makmur, dengan bukti bahwa Kerajaan Kutai berada
pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan Kutai menjadi tempat yang menarik
untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah
menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai, disamping pertanian.
Keterangan tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan
hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.
Masa keruntuhan Kerajaan Kutai runtuh ketika Raja Dharma Setia  tewas ditangan Raja Kutai
Kartanegara.  Raja Dhamarmasetia adalah anak dari Raja Mulawarman, cucu dari Raja
Asmawarman, buyut dari Raja Kudungga. Dan Raja Dharma Setia adalah Raja terakhir diKerajaan
Kutai .

B.      SARAN
Kita sebagai masyarakat Indonesia harus mencintai budaya budaya yang ada saat ini.
Peninggalan-peninggalan yang begitu besar di Indonesia membuktikan bahwa Indonesia adalah
negeri yang kaya akan budaya. Dengan cara merawat,melestarikan dan tidak merusak budaya yang
ada itu juga merupakan bukti cinta kita terhadapan peninggalan budaya diIndonesia. Melestarikan
dan mengembangkan Budaya Indonesia adalah hal yang sangat penting bagi kita anak Indonesia,
supaya Budaya Indonesia tidak hilang dari Indonesia ini.